Jumat, 02 Mei 2014

Tugas II Kesehatan Mental

Apa itu Kesehatan Mental ???

Sebelum kita mengetahui apa itu “kesehatan mental” ?, kita akan menjabarkan terlebih dahulu antara gangguan atau penyakit mental. Gangguan atau penyakit mental itu adalah gangguan atau penyakit yang menghalangi seseorang hidup sehat seperti yang diinginkan baik oleh diri individu itu sendiri maupun oleh orang lain. Jumlah gangguan mental yang dapat diidentifikasikan hampir tidak terbatas, mulai dari kesulitan-kesulitan emosional yang singkat meskipun merugikan individu sampai pada gangguan mental yang ringan dan berat. Pada gangguan mental yang ringan disebut “neurosis (gangguan mental)” sedangkan pada gangguan mental yang berat disebut “psikosis (penyakit mental)”. Klasifikasi gangguan mental banyak dan berbeda-beda antara bidang yang terkait, seperti: psikiatri, psikologi, sosiologi, maupun antropologi. Dengan klasifikasi atau pendekatan tersebut dari masing-masing bidang ini juga tidak umum dan tidak menyeluruh.

Sikap-sikap yang penting dalam menentukan kesehatan mental adalah sebagai berikut:
1.    Sikap menghargai diri sendiri.
2.    Sikap memahami dan menerima keterbatasan diri sendiri dan keterbatasan orang lain.
3.    Sikap memahami kenyataan bahwa semua tingkah laku ada penyebabnya.
4.    Sikap memahami dorongan untuk aktualisasi diri.
Seseorang yang menyukai dirinya sendiri biasanya orang yang bermental sehat. Sebaliknya, orang yang sama sekali tidak menyukai dirinya sendiri mengalami simtom khusus ketidakmampuan menyesuaikan diri.
Ilmu kesehatan mental bertujuan untuk membantu dan bukan untuk menghancurkan ego orang lain. Ia mengutamakan sikap menerima dan memuji bukan sikap menyalahkan dan menghukum. Ia menghormati martabat pribadi individu (pendekatan positif dan bukan negatif).
Dari segi pendekatan, semua gangguan utama yang sudah disebutkan diatas secara sistematis adalah sebagai berikut :
1.    Pendekatan psikodinamika
2.    Pendekatan behavioral
3.    Pendekatan kognitif
4.    Pendekatan fisiologis (biologis)
5.    Pendekatan humanistik – esistensial
6.    Pendekatan sosio – budaya


Ilmu Kesehatan Mental
Manusia dalam ilmu kesehatan mental diteliti dari titik tolak keadaan atau kondisi mentalnya. Sebelum menjabarkan apa ilmu kesehatan mental dari beberapa tokoh, kesehatan mental atau mental hygiene mempunyai arti kata dari bahasa Latin dan bahasa Yunani. Kata mental dari bahasa Latin yaitu mens dan mentis yang berarti jiwa, sukma, roh, semangat, sedangkan kata hygenie dari bahasa Yunani yaitu hugiene yang berarti ilmu tentang kesehatan. Jadi, mental hygenie sering juga disebut psikohygenie. Mental hygenie menitik beratkan kehidupan kerohanian, sedangkan psikohygeniemenitikberatkan manusia sebagai totalitas psikofisik atau psikosomatik. Ilmu kesehatan mental itu adalah ilmu yang membicarakan kehidupan mental manusia dengan memandang manusia sebagai totalitas psikofisik yang kompleks. Ada banyak definisi yang diberikan oleh penulis terhadap ilmu kesehatan mental. Beberapa diantaranya adalah . . 

Alexander Schneiders (1965): “Ilmu kesehatan mental adalah ilmu yang mengembangkan dan menerapkan seperangkat prinsip yang praktis dan bertujuan untuk mencapai dan memelihara kesejahteraan psikologis organisme manusia dan mencegah gangguan mental serta ketidakmampuan menyesuaikan diri.”

Samson, Sin, & Hofilena (1963): “Ilmu kesehatan mental bertujuan untuk menjaga dan memelihara fungsi-fungsi mental yang sehat dan mencegah ketidakmampuan meyesuaikan diri atau kegiatan-kegiatan mental yang kalut.”

Howard Bernard (1957): “Ilmu kesehatan mental adalah suatu program yang dipakai dan diikuti seseorang untuk mencapai penyesuaian diri.”

D.B. Klien (1955): “Ilmu kesehatan mental itu adalah ilmu yang bertujuan untuk mencegah penyakit mental dan meningkatkan kesehatan mental.”

Louis P. Thorpe (1960): “Ilmu kesehatan mental adalah tahap psikologis yang bertujuan untuk mencapai dan memelihara kesehatan mental.”

Analisis dari definisi ilmu kesehatan mental menunjukan bahwa ilmu tersebut pertama-tama berbicara mengenai pemakaian dan penerapan seperangkat prinsip kesehatan yang bertujuan untuk mencegah ketidakmampuan menyesuaikan diri serta meningkatkan kesehatan mental.

Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala kapasitas, kreativitas, energi, dan dorongan yang ada semaksimal mungkin sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain serta terhindar dari gangguan atau penyakit mental (neurosis dan psikosis).

Menurut Dr. Estefania Aldaba Lim (1956), kesehatan mental itu tidak bisa didefinisikan secara sederhana, tetapi harus menyangkut berbagai macam hal. Karena itu, ia lebih lanjut menjelaskan arti kesehatan mental ketika ia menekankan apa yang tidak termasuk dalam kesehatan mental. Berikut dalam pandangan kesehatan mental dari Dr. Estefania Aldaba Lim :
1.    Kesehatan mental bukan penyesuaian diri dalam semua keadaan, karena ada banyak keadaan dimana seseorang sebaiknya tidak menyesuaiakan diri dengannya sebab kalau tidak demikian, maka akan kemungkinan ia tidak akan mencapai kemajuan.
2.    Kesehatan mental bukan bebas dari kecemasan dan ketegangan, karena kecemasan dan ketegangan sering kali merupakan prasyarat dan akibat yang ditimbulkan oleh kreativitas.
3.    Kesehatan mental bukan bebas dari ketidakpuasan, karena ketidakpuasan yang realistik membuktikan adanya kemajuan.
4.    Kesehatan mental bukan konformitas, karena salah satu kriteria untuk kematangan adalah kemampuan untuk berada terpisah dari masyarakat apabila keadaan menuntutnya. Ciri kesehatan mental adalah kebebasan yang relatif dari prasangka-prasangka budaya dan pribadi.
5.    Kesehatan mental bukan berkurangnya prestasi dan kreativitas, karena ciri kesehatan mental adalah kemampuan individu untuk menggunakan tenaganya dengan sepenuh-penuhnya.
6.    Kesehatan mental bukan tidak adanya tabiat-tabiat pribadi yang aneh, karena banyak tabiat yang aneh seperti itu yang tidak mengganggu fungsi tubuh yang normal, memperkaya kehidupan individu orang-orang yang berhubungan dengannya.
7.    Kesehatan mental bukan melemahkan kekuasaan, karena ciri kesehatan mental adalah meningkatnya kemampuan individu untuk mengguanakan dan menghargai kekuasaan yang realistik sambil mengurangi pengguanaan kekuasaan sebagai suatu kekuatan yang menekan dan yang hanya dipakai untuk memuaskan kebutuhan pribadi individu.
8.    Kesehatan mental bukan bertentangan dengan nilai-nilai agama, karena kesehatan mental memudahkan dan melengkapi tujuan-tujuan agama.

Jelas semua kualitas kesehatan mental yang disinggung dalam definisi dan penjelasan diatas sangat penting untuk penyesuaian diri. Reaksi-reaksi terhadap lingkungan, pekerjaan, perkawinan, dan hubungan antarpribadi tetap dipengaruhi oleh keadaan mental. Perasaan sejahtera, kestabilan emosi, efesiensi mental sangat berharga dalam memecahkan kesulitan-kesulitan dan konflik-konflik pribadi. Karena itu, kesehatan mental atau penyakit mental menembus proses penyesuaian diri dan dapat dianggap sebagai kondisi dan sebagai bagian integral dari penyesuaian diri. Kesehatan mental tidak hanya jiwa yang sehat berada dalam tubuh yang sehat, tetapi juga suatu keadaan yang berhubungan erat dengan seluruh eksistensi manusia. Itulah suatu keadaan pribadi yang bercirikan kemampuan seseorang untuk menghadapi kenyataan dan untuk berfungsi secara efektif dalam suatu masyarakat yang dinamik.

Sangat sulit untuk menetapkan satu ukuran dalam menentukan dan menafsirkan kesehatan mental. Alexander A. Schneider (1965) dengan bukunya berjudul “Personality Dynamics and Mental Health”, mengemukakan bebrapa kriteria yang sangat penting dan dapat diuraikan sebagai berikut :
1.    Efisiensi mental, seperti pada gangguan kepribadian yang mengalami gangguan emosional, neurotik, atau tidak adekuat sama sekali tidak memiliki kualitas ini.
2.    Pengendalian dan integrasi pikiran dan tingkah laku, seperti pada obsesi, ide yang melekat (pikiran yang tidak hilang-hilang), fobia, delusi, dan simtom-simtom lainnya mungkin berkembang. Yang meliputi integrasi pikiran dan tingkah laku adalah pembohong yang patologik, psikopat, dan penipu mengalami kekurangan dalam integritas pribadi.
3.    Intergrasi motif-motif serta pengendalian konflik dan frustrasi, seperti kebutuhan akan afeksi dan keamanan bisa bertentangan dengan otonomi kemudian dorongan seks bisa bertentangan dengan cita-cita atau prinsip-prinsip moral.
4.    Perasaan-perasaan dan emosi-emosi yang positif dan sehat, seperti perasaan positif yaitu perasaan-perasaan yang diterima, cinta, memiliki, aman, dan harga diri. Sedangkan perasaan negatif yaitu perasaan-perasaan yang tidak aman yang dalam, tidak adekuat, bersalah, rendah diri, bermusuhan, benci, cemburu, dan iri hati.
5.    Ketenangan atau kedamaian pikiran, seperti keharmonisan emosi, perasaan positif, pengendalian pikiran dan tingkah laku. Respon-respon yang simtomatik, seperti delusi-delusi, lamunan atau halusinasi merupakan gangguan yang langsung bertentangan dengan kestabilan mental.
6.    Sikap-sikap yang sehat, mempunyai kesamaan dengan perasaan-perasaan dalam hubungannya dengan kesehatan mental. Seperti kepribadian-kepribadian yang tidak dapat meyesuaikan diri atau kalut, kita selalu teringat betapa pentingnya mempertahankan pandangan yang sehat terhadap hidup, orang-orang, pekerjaan, maupun kenyataan.
7.    Konsep diri (Self Concept) yang sehat, perasaan-perasaan diri yang tidak adekuat, tidak berdaya, rendah diri, tidak aman atau tidak berharga akan mengurangi konsep diri yang adekuat.
8.    Identitas ego yang adekuat, menurut White (1952), identitas ego adalah diri atau orang dimana ia merasa dirinya sendiri. Contohnya seperti tuntutan dari diri dan kenyataannya, ancaman, frustrasi, dan konflik, maka kita harus berpegang teguh pada identitas kita sendiri. White (1952) menambahkan, apabila identitas ego tumbuh menjadi stabil dan otonom, maka orang tersebut akan mampu bertingkah laku lebih konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungannya. Semakin ia yakin akan kodrat dan sifat-sifat yang khas dari dirinya sendiri, maka semakin kuat juga inti yang menjadi sumber kegiatannya.
9.     Hubungan yang adekuat dengan kenyataan, misalnya seseorang yang terlalu menekankan masa lampau adalah orang yang tidak berorientasi kepada kenyataan, sedangkan seseorang yang menggantikan kenyataan dengan fantasi atau khayalan adalah orang yang telah menolak kenyataan. 


REFERENSI


Bernard, H. (1957). Toward Better Personal Adjustment. New York: McGraw-Hill Book Co.

Schneiders, A. (1965). Personality Dynamics and Mental Health. New York: Rinehart & Co.

Samson, J., Sin, F., & Hofilena, F. (1963). Principles and Practice of Mental Hygenie. Manila Philipphines.

Thorpe, L.P. (1960). The Psychology of Mental Health. New York: Ronald Press.

White, R.W., & Watt, N.F. (1972). The Abnormal Personality (15th ed.). Philadelphia: W.B. Saunders Company.